Akademisi FK UNSOED Ajak Masyarakat Bijak Gunakan Antibiotik

Tim Fakultas Kedokteran (FK) Unsoed yang diketuai oleh Dr.dr. Dwi Utami Anjarwati M.kes, merupakan tim gabungan Staf Bagian Mikrobiologi kedokteran dan Bagian Farmakologi kedokteran pada Minggu, 30 Juli 2017 mengajak masyarakat Banyumas untuk menggunakan antibiotik secara bijak. Kegiatan yang dilakukan bersama kelompok PKK RT 03/ RW 07, Bersole Wanadadi, Kelurahan Karang Pucung, Kecamatan Purwokerto Selatan ini merupakan bentuk kontribusi Akademisi FK Unsoed dalam upaya mengurai masalah resistensi antibiotik dari akarnya di Kabupaten Banyumas.

Dr.dr. Dwi Utami Anjarwati M.kes, mengungkapkan bahwa Asia merupakan kawasan dengan kasus resistensi antibiotik tertinggi. Demikian pula hasil-hasil penelitian di berbagai rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa masalah resistensi antibiotik sudah sangat memprihatinkan. Upaya pengendalian resistensi antibiotik di Indonesia dituangkan dalam peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2015 tentang program pengendalian resistensi antimikroba di rumah sakit. “Penggunaan antibiotik yang tidak bijak tidak hanya bermula di Rumah sakit atau tempat-tempat pelayanan kesehatan lain. Namun, kebiasaan yang tidak benar terkait penggunaan antibiotik di masyarakat berkontribusi dalam peningkatan kejadian resistensi Anbibiotik”, ungkapnya.

Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa Peta penyelesaian masalah resistensi antibiotik di Indonesia telah tersusun secara komprehensif. Namun demikian, sangat perlu dukungan dari berbagai pihak agar penyelesaian masalah ini dapat menyentuh hingga ke akar-akarnya. Penerapan standar preucaution di rumah sakit harus ditingkatkan, penjualan antibiotik secara bebas di apotik/kios/warung harus ditekan, penggunaan antibiotik sebagai growth factor pada ternak harus dicegah, pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan penggunaan antibiotik bijak harus ditingkatkan.

Dengan dasar ini, akademisi Unsoed berkontribusi dengan mengajak masyarakat untuk peduli penggunaan antibiotik secara bijak, sebagai upaya untuk mengendalikan faktor yang berpotensi sebagai akar masalah. Acara dimulai dengan pembukaan oleh Ibu ketua PKK dilanjutkan dengan pengisian kuesinoner secara terpimpin oleh dr. Fajar Wahyu Pribadi dari bagian Farmakologi Kedokteran Unsoed. Kuesioner diberikan dua kali sebelum dan setelah alih pengetahuan tentang resistensi antibiotik, untuk mengetahui pemahaman terhadap materi yang diberikan.

Materi pertama disampaikan oleh dr. Dwi Utami Anjarwati dari bagian Mikrobiologi kedokteran Unsoed. Dalam kesempatan tersebut masyarakat diajak untuk mengenali berbagai mikrorganime penyebab penyakit infeksi antara lain virus, bakteri, jamur dalam bahasa yang mudah diterima oleh masyarakat awam. Disampaikan pula bahwa penyakit infeksi tidak hanya disebabkan oleh bakteri. “Oleh karena itu, antibiotik yang merupakan obat antibakteri tidak dapat digunakan untuk mengobati penyakit yang penyebabnya bukan bakteri”, jelasnya. Beberapa penyakit infeksi dengan gejala demam ringan dalam 3 hari, batuk pilek biasa dan diare tanpa lendir darah belum tentu disebabkan oleh bakteri. Masyarakat diajak mulai berhati-hati dan menggunakan antibiotik harus sesuai indikasi. Jika antibiotik digunakan secara tidak bijak, maka bakteri-bakteri yang kebal akan berkembang biak. Hal ini menyebabkan antara lain penurunan kepekaan bakteri terhadap antibiotik, sehingga dapat memperpanjang periode perawatan pasien hingga meningkatkan angka kesakitan dan kematian serta beban biaya pengobatan menjadi lebih mahal. Untuk memberikan kesan mendalam akan adanya bakteri yang kebal terhadap antibiotik, masyarakat diajak mengamati alat peraga berupa hasil biakan bakteri yang kebal dan yang peka terhadap antibiotik. Bakteri yang kebal terhadap antibiotik tampak tumbuh memenuhi seluruh media biakan termasuk disekitar antibiotik yang ditempelkan. Sedangkan pada bakteri yang peka masyarakat bisa melihat daerah jernih yang laus yang tidak ditumbuhi bakteri disekitar antibiotik.

Materi kedua disampaikan oleh dr. Fajar Wahyu Pribadi MSc tentang bagaimana mendapatkan, menggunakan, menyimpan dan membuang antibiotik. Materi kedua ini meliputi bagaimana cara mendapatkan antibiotik yang benar yaitu dengan resep dokter agar sesuai indikasi, cara pemberian, dosis, waktu serta tempat pembelian yang tepat. Selain itu masyarakat juga diingatkan untuk tidak berbagi resep dengan orang lain dan tentang aturan penyimpanan serta bagaimana memusnahkan antibiotik. Pemberian kedua materi di ditutup dengan roleplay, skenario kasus sederhana yang diberikan antara lain seorang peserta berperan sebagai orang tua yang anaknya menderita demam ringan dua hari. Peserta tersebut dituntun untuk dapat memutuskan apakah perlu segera memberikan antibiotik atau tidak, dan apakah langkah yang diperlukan jika demam berlanjut. Skenario lain yang diberikan seperti apakah antibiotik diperlukan jika masyarakat mengalami luka iris yang bersih, bagaimana jika antibiotik tersisa dan perlu tidaknya menyimpan antibiotik di rumah untuk tindakan pencegahan.

Masyarakat sangat berantusias mengikuti kegiatan ini. Bahkan pada kesempatan diskusi didapatkan informasi bahwa mereka seringkali membeli antibiotik untuk orang lain sesuai dengan resep yang lama atau untuk keluhan yang mereka anggap sama dengan keluhan sebelumnya seperti sakit gigi.

FK Unsoed Maju Terus Pantang Mundur, Tak Kenal Menyerah!(end)

Tags: