Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) Wilayah Jateng Dan DIY

Bertempat di Aula Dekanat Lt.3, Selasa 18 April 2017 pukul 11.00 WIB s/d selesai, telah dilaksanakan acara Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) Wilayah Jateng dan DIY yang dibuka oleh ketua panitia oleh dr.Zaenuri Syamsu H,Sp.KF.,M.Si Med dengan sambutannya bahwa dengan adanya pertemuan kali ini yang bertempat di Fakultas Kedokteran Unsoed dengan mempertemukan teman sejawat Forensik Wilayah Jateng dan DIY untuk menyatukan visi dan misi pendidikan Forensik yang berdaya saing tinggi.

Sambutan dari Ketua PDFI Wilayah Jateng dan DIY dr. Arif Rahman Sadad,S.H.,Sp.KF.,M.Si Med,DMM selamat datang peserta PDFI Wilayah Joglosemarpur dan Malang yang telah hadir di Fakultas Kedokteran Unsoed dengan pertemuan ini bisa membahas dunia Forensik yang dapat dikaji dalam :
1.    Kajian Kimia Forensik, menyangkut materi: penyalahgunaan obat, pemakaian bahan kimia beracun/toksin, berbahaya (B-3), explosive materials, dan pencemaran lingkungan.
2.    Kajian Fisika Forensik, menyangkut materi: Cyber Crime, pemalsuan dokumen, uang palsu, kebakaran, disaster, eksplosif, dan konstruksi bangunan.
3.    Kajian Biologi Forensik, menyangkut materi: analisis anatomi makroskopik, mikroskopik, ataupun biologi molekuler seperti pemeriksaan DNA, herediter, dan lain-lain.
PDFI kali ini mendatangkan pakar dibidang pendidikan Forensik dr.Beta Ahlam Gizela,Sp F.,DFM yang mempersentasikan tentang Mengawal Kompetnsi Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal dalam Pendidikan Dokter Indonesia  sebagai dosen FK UGM Yogyakarta menerangkan kisi pelaksanaan soal UKMPPD yang berhubungan dengan materi Forensik dan Medikolegal dengan berbagai macam aspek dan unsur penilaian.


Sesion Kedua tentang Apakah Perbedaan Kompetensi Penanganan Forensik Klinik Antara Dokter Umum dengan Dokter Forensik dr.I.B.GD Surya Putra Pidapa,Sp.F sebagai Ketua Komite Etik dan Hukum di FK UGM menurut McAshan merupakan pengetahuan, keahlian dan kemampuan yang dimiliki seseorang, yang menjadikan bagian dari dirinya sehingga dia bisa menjelaskan penampilan kognisi, afektif dan perilaku psikomotorik tertentu. Kesimpulan dokter spesialis forensic klinik perlu dilakukan revisi kurikulum sehingga jelas perbedaannya dengan kompetensi dokter umum. Dilanjutkan dengan diskusi forensik yang udah dibagi dengan perkelompok session dengan materi sedang hangat diperbincangkan dimedia elektronik dan media sosial.
Maju Terus Pantang Menyerah !!!!!(joyin)

Tags: