UNSOED Berpartisipasi Dalam Program Banyumas Goes to Zero Thalassaemia 2030

Yayasan Thalassemia Indonesia (YTI) cabang Banyumas dan para pemerhati Thalassemia di Banyumas, Sabtu (28/10) sukses menyelenggarakan Banyumas Goes to Zero Thalassaemia 2030. Kegiatan diikuti oleh pengurus PKK se kabupaten Banyumas. Acara yang dihadiri oleh Ibu Gubernur Atik Ganjar Pranowo dan Ibu pembina PKK Kabupaten Ibu Erna Husein menekankan pembinaan keluarga Banyumas agar terdidik dan sadar mandiri terhadap ancaman penyakit menurun thalassemia. Pada kesempatan pertama Ibu Atik menyampaikan materi pentingnya keluarga di Jawa tengah terlibat aktif dalam usaha pencegahan thalassemia. Beliau memberikan testimoni  thalassemia sebagai suatu penyakit yang memerlukan terapi seumur hidup. Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa klaim BPJS untuk pengelolaan sangat besar. “Pengelolaan thalassemia selalu menduduki peringkat 3-10 besar klaim BPJS. Hal ini tentu sangat disayangkan mengingat bahwa Thalassemia adalah penyakit menurun yang sangat mudah untuk dicegah”, ungkapnya. Beliau menyarankan agar semua keluarga di Banyumas pada khususnya secara sadar memeriksakan diri dan keluarganya apakah dirinya sebagai pembawa gen pembawa sifat thalassemia atau tidak. Jika tidak dicegah, maka dapat dipastikan jumlah pasien thalassemia akan semakin banyak dan klaim BPJS akan mencapai klimaknya.

 

Pembicara kedua yaitu Ketua YTI pusat Bapak Ruswandi, dengan pengalamannya sebagai orang tua pasien thalassemia. Beliau menjceritakan tentang bagaimana harus mengelola pasien thalassemia dari bayi sampai seumur hidupnya. Beban keluarga yang besar menjadikan Thalassemia sebagai penyakit yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah melalui program pencegahan nasional. Hal serupa dikatakan oleh pembicara ketiga yaitu dr. Hartono SpA yang menjelaskan aspek klinis dan perawatan yang harus dijalani oleh para pasien thalassemia. Beliau menjelaskan detail bahwa seorang pasien thalassemia akan menjalani program transfusi sejak usia 6 bulan -1 tahun dan berlangsung seumur hidupnya. “Pasien harus datang ke pusat perawatan thalassemia di RSU Banyumas setiap 3-4 minggu sekali dengan bekal obat yang harus diminum di rumah sepanjang hidupnya”, jelasnya. Pada kesimpulan beliau menyampaikan bahwa penyakit kronis ini harus dicegah. Pengobatan hanya dimaksudkan sebagai terapi suportif, karena pada dasarnya penyakit ini belum ditemukan terapi yang definit menyembuhkan secara permanen.

Di akhir sesion, narasumber dari Fakultas Kedokteran (FK) Unsoed dr. Lantip menyampaikan bahwa program Banyumas Goes to Zero 2030 adalah program yang harus didukung semua pihak sebagai kesadaran kolektif. Dengan angka pembawa sifat thalassemia kurang lebih 8 % Banyumas berpotensi menjadi daerah endemik thalassemia jika tidak dilakukan rangkaian kegiatan pencegahan. “Pencegahan sederhana namun sulit dalam pelaksanaanya adalah menghindari pembawa pembawa sifat untuk melakukan pernikahan. Simple tapi membawa implikasi yang begitu besar dalam pelaksanaanya. Skrining premarital sebelum nikah boleh jadi menjadi alternatif pencegahan, namun harus hati-hati dalam implementasinya”, ungkapnya. Lebih lanjut dr. Lantip menyampaikan bahwa skrining pada anak-anak remaja, atau mahasiswa menjadi alternatif yang lebih ‘ringan’ karena mereka masih punya waktu lebih longgar untuk memikirkan dan merencanakan masa depan reproduksinya. Program skrining lain yang bisa dilakukan adalah pemeriksaan ibu hamil. Pada waktu hamil pemeriksaan Hb adalah rutin. Pada program skrining Thalassemia, pemeriksaan rutin ibu hamil ditambah MCV dan MCH selain Hb. Jika ada kecenderungan pembawa sifat, maka langkah selanjutnya adalah pemeriksaan suami.


Pada late screening, program prenatal diagnosis bisa dilakukan pada pasangan-pasangan pembawa sifat yang menikah. Prenatal diagnosis mampu mendeteksi apakah bayi yang dikandung membawa gen penyebab thalassemia atau tidak. Selain itu skrining pada tahap ini membutuhkan biaya yang besar. Hal lain yang masih menjadi pemikiran adalah regulasi di Indonesia terhadap terminasi atau pengakhiran kehamilan.
Seminar pada kader PKK se-Banyumas ini merupakan lanjutan program pendidikan massal thalassemia yang sebelumnya menyasar para bidan dan dokter se banyumas, para penghulu KUA se Banyumas, serta para guru dan kepala sekolah se Banyumas. Progam pendidikan massal thalassemia ini telah dilaksanakan sejak tahun 2010. Unsoed mengambil peran penting dengan melibatkan pakarnya dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Maju Terus Pantang Mundur, Tak Kenal Menyerah!(Endg)

 

Tags: